Headlines News :
Home » , , , » Pesan Tersirat Dari Berbagai Sosok Patung dan Relief di Pura

Pesan Tersirat Dari Berbagai Sosok Patung dan Relief di Pura

Written By Unknown on Monday, September 8, 2014 | 11:59 AM

Arca di Pura (popbali.com)
DUMAI - Salah satu jenis destinasi wisata di Bali yang banyak dikunjungi oleh wisatawan adalah Pura, entah yang berdiri sendiri seperti Pura Tanah Lot atau yang berkelompok seperti komplek Pura Besakih. Dan obyek pemandangan yang selalu menarik bagi pengunjung adalah patung-patung dan relief-relief yang ada di dalamnya.

Begitu banyak ragam patung dan relief di berbagai pura di Bali hingga tak heran jika meninggalkan beragam kesan bagi wisatawan. Namun jika dikelompok berdasarkan tampilan fisiknya, maka relief dan patung-patung di Bali menampilkan 4 ragam bentuk/wujud, setidaknya dalam pandangan penulis, yaitu:
1. Rupawan dan Indah, misalnya: Patung sosok Dewa yang rupawan atau Dewi yang cantik. Pokoknya serba indah dan enak dipandang mata.
2. Seram dan Menakutkan, misalnya: patung dan relief bersosok raksasa atau hewan mistis seperti Naga atau Garuda atau Macan yang juga tak kalah seramnya. Pokoknya bentuk-bentuk menakutkan.
3. Biasa saja Namun Lucu dan Menghibur, misalnya: patung bersosok manusia (biasanya punakawan  atau ‘parekan’ dalam bahasa Bali).
4. Telanjang dan Vulgar, misalnya: patung telanjang atau relief yang di dalamnya menampilkan sosok-sosok bugil tanpa busana.

Pertanyaan yang paling sering muncul sehubungan dengan ragam relief dan patung di Bali, terutama yang nampak aneh dalam pandangan pengunjung, adalah:
“Mengapa wujud/sosoknya seperti itu? Mengapa ada yang nampak nyeleneh? Apa itu sesungguhnya?”
Ada pula yang bertanya dengan nada agak ekstrim:
“Apakah orang Bali menyembah batu-batu, dewa-dewa, sosok seram dan wujud-wujud bugil itu?”

Jika bertanya kepada lebih dari satu orang Bali maka jawaban atas pertanyaan di atas kemungkinan besar akan beragam. Sebab masing-masing patung dan relief di Bali memang bukan sekedar benda fisik yang bersifat hiasan semata. Melainkan simbul-simbul (baca: codex) yang diekspresikan oleh orang-orang khusus yang disebut “undagi,” dan mengandung “pesan” bermakna multi-dimensi.

Makna-makna multi-dimensi itu lah yang membuat wujud patung dan relief di Bali bisa dijelaskan dalam berbagai versi. Ada yang menjelaskan dari sudut pandang kejadian masa lampau yang oleh orang Bali disebut “Babad,” ada yang menggunakan perspektif spiritual atau kerohanian, dan ada pula yang memaparkannya dari aspek nilai filosofis alias filsafat.

Penulis pribadi tidak meenguasai Babad dengan baik. Sebagai gantinya, melalui artikel sederhana ini penulis akan menyampaikan pandangan pribadi dari aspek spiritualitas (niskala) dan filosofi (konsep) yang sudah barang tentu—sedikit/banyaknya—juga dipengaruhi oleh pemahaman mengenai ragam sudut-pandang yang selama ini lumrah berkembang di Bali.

Patung dan relief di Tiga Wilayah Spiritual
(Popbali.com)
Sistim kepercayaan dan konsep Ketuhanan  dunia Barat (baca: theology) tegas-tegas menekankan pentingnya bagi manusia untuk berbuat “baik.” Sedangkan dalam sistim kepercayaan masyarakat Hindu di Bali berbuat baik saja tidaklah cukup.

Suatu perbuatan baik—dalam sistim kepercayaan umat Hindu di Bali—tidak boleh merusak tatanan yang ada. Dengan kata lain, perbuatan baik tak cukup hanya menyenangkan Tuhan dan segala manifestasinya saja, melainkan juga harus tetap menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungannya (manusia dan mahluk ciptaan Tuhan lainnya). Sebab, membina hubungan yang harmonis dengan mahluk lain  adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukan oleh manusia untuk membuktikan kesungguhannya dalam memuja Tuhan. Sedangkan memuja Tuhan tanpa menajaga hubungan harmonis dengan mahluk ciptaanNYA yang lain sama saja dengan kepalsuan.

Upaya menjaga hubungan harmonis ini dituangkan dalam tuntunan hidup praktikal yang disebut “Tri Hita Karana,” yakni konsep 3 hubungan harmonis antara:
      1.      Manusia dengan Tuhan dan segala manifestasiNya (Parahiyangan);
      2.      Manusia dengan manusia lainnya (Pawongan); dan
      3.      Manusia dengan mahluk ciptaan Tuhan lainnya (Palemahan).

Agar upaya menjaga hubungan harmonis bisa terlaksana secara efektif, sesuai dengan tuntunan Tri Hita Karana, maka lingkungan yang ada dibagi menjadi 3 wilayah spiritual yang disebut “Mandala“. Konsep pembagian lingkungan menjadi 3 wilayah ini, khususnya di areal Pura, disebut dengan “Tri Mandala.” Masing-masing bagian dari 3 mandala ini menunjukkan ciri khas tersendiri dalam penempatan bangunan beserta segala isinya, termasuk patung dan relief, sesuai peruntukannya, yakni sbb:
1.    Jaba Mandala
Jaba Mandala (=wilayah luar) adalah wilayah Palemahan, yakni ruang untuk membina hubungan harmonis antara manusia dengan mahluk ciptaan Tuhan lainnya seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, termasuk para Buthakala (=entitas yang tak terlihat secara kasat mata).
Nah, patung dan relief yang ditempatkan di wilayah ini biasanya yang bersosok SERAM/MENAKUTKAN yang merupakan representasi dari “mahluk ciptaan Tuhan lainnya,” entah itu yang bersosok raksasa atau hewan mistis seperti macan/ular/naga dan sejenisnya.

(Popbali.com)
Dari perspektif SPIRITUAL, wilayah yang lumrah disebut “Jabaan Pura” ini mewakili fase “kegelapan” manusia yang samasekali belum memiliki kesadaran spiritual. Kondisi “gelap” ini dalam Hindu disebut ‘Awidya,’ yakni kondisi dimana manusia belum mengenal jati dirinya sebagai roh (spirit); masih menganggap diri sebagai “tubuh-yang-memiliki-roh,” lalu terjebak dalam dualitas yang pada akhirnya melahirkan ketakutan-ketakutan.

Misalnya: takut dibenci, takut diabaikan, takut dispelekan, takut dihina, takut ditolak,  takut rugi, takut gagal, takut miskian, takut sakit, takut menderita, takut kehilangan, dan takut mati. Padahal semua yang ditakuti itu adalah sisi lain dari apa yang manusia inginkan (dicintai, disayangi, dihargai, dihormati, diterima, untung, sukses, sejahtera, sehat, bahagia, menerima, hidup).

Ketakutan-ketakutan tersebut kemudian mendorong manusia untuk bertindak semaunya tanpa etika dan moral thus menyerupai karakter hewan, atau bertindak kejam tanpa rasa welas asih thus menyerupai karakter raksasa, untuk sekedar mendapat keyakinan semu bahwa dirinya bisa terhindar dari kondisi-kondisi menakutkan tersebut.

Lepas dari keyakinan ada atau tidak adanya sosok menakutkan dalam kehidupan nyata, bentuk patung dan relief bersosok menakutkan dan hewan mistis dalam wilayah ini mewakili kondisi gelap (awidya) dan dominasi rasa takut yang dialami oleh manusia, sebelum memiliki kesadaran spiritual.

Mereka yang belum mengenal atau belum memahami konsep ini, tentunya memandang sosok di wilayah ini sebagai sosok yang seram dan menakutkan. Sebagian diantaranya mungkin menyebutnya sebagai sosok “Setan” atau “Iblis” dan yang sejenisnya. Padahal, hal-hal yang menakutkan itu adalah bayangan gelap dari dirinya sendiri yang belum memiliki kesadaran spiritual.

2.    Madya Mandala
Madia Mandala (=wilayah tengah) adalah wilayah Pawongan, yakni ruang untuk membina hubungan harmonis antara manusia dengan manusia lainnya.

Pada acara ‘Piodalan Ageng’ (=persembahyangan besar), oleh umat wilayah ini difungsikan sebagai tempat untuk mempersiapan acara persembahyangan. Misalnya: membuat dan menyiapkan peralatan sembahyang, memasak, makan dan istirahat. Sehingga yang terjadi di wilayah ini adalah interaksi manusia dengan manusia lainnya, sesama umat di Pura yang sama.

Patung dan relief yang ditempatkan di wilayah ini biasanya jenis parekan (=punakawan) yang bersosok manusia sepenuhnya atau patung-patung yang digambarkan sebagai sosok bertubuh manusia namun masih berkepala raksasa.

Dari perspektif SPIRITUAL, wilayah yang lumrah disebut “Jaba Tengah” ini mewakili fase kesadaran awal manusia akan jatidirinya; mulai tahu bahwa dirinya adalah “roh yang memiliki tubuh,” dan BUKAN “tubuh yang memiliki roh” seperti pada fase awidya di wilayah Jaba Mandala.

Namun, kesadaran yang timbul dalam fase tengah ini belum mampu membawa manusia keluar dari jebakan dualitas; masih memandang gelap terpisah dari terang, penyakit terpisah dari kesehatan, kegagalan terpisah dari keberhasilan, derita terpisah dari bahagia, duka terpisah dari suka, dan kematian terpisah dari kelahiran. Padahal masing-masing merupakan satu kesatuan; hanya berada di sisi yang berbeda.

Dengan kata lain, dalam fase ini manusia telah memiliki kesadaran spiritual namun belum mampu mengaplikasikannya ke dalam perilaku (pikiran-ucapan-dan-tindakan) sehari-hari. Jikapun sudah mulai mampu, kondisinya masih belum stabil, belum konsisten, masih angin-anginan; kadang ingat Tuhan kadang lupa, kadang rajin bersembahyang kadang malas, bersukur saat beruntung namun mengeluh saat apes, kadang rajin bermeditasi kadang malas, kadang ingat berpuasa kadang lupa, kadang sabar kadang tak sabar, kadang penyayang kadang kejam, KADANG SADAR KADANG TAK SADAR, dan KADANG WIDYA KADANG MASIH AWIDYA.

Kesadaran yang masih bersifat fluktuatif inilah membuat seseorang sesekali masih menunjukkan perilaku hewani yang tuna-moral atau perialku keraksasaan yang kejam-bengis tanpa welas asih.

Patung bertubuh manusia berkepala raksasa di wilayah Jaba Tengah ini mewakili karakter dan perilaku manusia yang masih cenderung berfluktuasi; kadang baik kadang jahat, kadang berbuat kebajikan kadang berbuat kejahatan, kadang sadar kadang tak sadar, dan kadang widya kadang awidya.

Umat manusia di muka Bumi ini, mayoritas berada pada fase tengah ini dan berkesadaran fluktuatif. Itu sebabnya fase ini juga diwakili oleh patung-patung dan relief-relief bersosok manusia kebanyakan. Khusus di Bali, sosok manusia kebanyakan digambarkan sebagai sosok “Parekan” (=punakawan).

3.    Utama Mandala
Utama Mandala (=wilayah utama) adalah wilayah Parahiyangan, yakni ruang untuk membina hubungan harmonis antara Manusia dengan Tuhan dan segala manifestasinya. Konkretnya, tempat untuk melakukan aktivitas pemujaan terhadap Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. Patung dan relief yang banyak ditemukan di wilayah Utama Mandala ini adalah yang bersosok DEWA-DEWI (=manifestasi Tuhan dalam menjalankan fungsi tertentu), yang berparas RUPAWAN. Sosok laki-lakinya berwajah tampan, sementara sosok wanitanya berparas cantik, lengkap dengan gelung indahnya. Sosok yang nyaris sempurna.
(Popbali.com)
Dari perspektif SPIRITUAL, wilayah yang lumrah disebut “Jeroan” ini mewakili fase kesadaran spiritual yang sudah mendekati sempurna; telah terbebas dari jebakan dualitas; mampu melihat kebaikan-dan-keburukan sebagai 2 sisi dari satu keping koin logam. Dalam artian, hal-hal yang nampak kontradiktif di fase sebelumnya, kini telah nampak “sempurna sebagaimana adanya,” sirna segala ragu dan bimbang, tidak ada lagi yang perlu dipertentangkan, tidak ada lagi keluh-kesah, yang terisa hanya rasa kagum terhadap indahnya kesempurnaan REALITAS (baca: kebenaran) MAHA KARYA-NYA. Kondisi inilah yang oleh Pak Gede Prama biasanya diwakili dengan lagu “Lihat Kebunku (…semuanya indah)” atau “Di Sini Senang Di Sana Senang (…dimana-mana hatiku senang.)”

Patung dan relief di wilayah Utama Mandala, yang nampak INDAH dan RUPAWAN itu, mewakili keindahan dari fase kesadaran spiritual yang mendekati kondisi sempurna.

 CATATAN: Patung dan Relief Telanjang
Diantara tiga ragam yang telah disebutkan di atas, kadang ada (di sana-sini) patung atau relief yang TELANJANG , TANPA BUSANA alias BUGIL. Patung dan relief seperti ini bisa ada dimana saja diantara Jaba (luar), Madia (tengah) dan Utama (dalam) Mandala. Ini yang kerap menarik perhatian sekaligus mengundang pertanyaan pengunjung.

Dari perspektif SPIRITUAL,   tanpa busana atau telanjang atau bugil adalah suatu kondisi dimana seseorang melepaskan atribut-atribut/label-label/jabatan-jabatan/strata-strata dan hal-hal yang sifatnya hanya ‘bungkus’ luar, hingga yang tersisa hanya diri yang sejati, yakni roh/spirit murni yang bebas dari kontaminasi materialitas atau keduniawian. Melapaskan ‘bungkus’ adalah hal paling fundamental yang harus dilakukan oleh siapa saja yang menapaki jalan spiritual.  Pesan inilah yang disampaikan lewat patung atau relief bersosok telanjang yang ada entah di dalam Pura atau dindingnya.

Lalu, bagaimana pesan-pesan spiritual itu dilaksanakan?
Aktivitas spiritual di Bali dilaksanakan secara berkala atau terjadwal, dan secara harian. Secara terjadwal persembahyangan dilakukan di berbagai pura pada hari-hari (suci) tertentu yang disebut “rerainan” ATAU pada bulan tertentu yang disebut “piodalan.”

Saat bersembahyang di Pura, seseorang diharapkan bisa membedakan mana wilayah Jaba, Madia dan Utama Mandala Pura. Konkretnya sbb:

Saat masih berada di luar areal Pura (Jaba Mandala/Jaba Pura), mungkin dia masih dipengaruhi oleh karakter/pemikiran yang cenderung bersifat hewani dan keraksasaan (awidya). Begitu akan memasuki wilayah tengah (Madia Mandala/Jaba Tengah) Pura, dia diperciki ‘Tirta’ (=air suci) dan ‘tepung tawar,’ maksudnya untuk mengingatkan agar melepaskan sifat-sifat hewani dan keraksasaannya guna menjadi manusia seutuhnya. Dan ketika akan memasuki wilayah Utama Mandala (Jeroan) Pura, dia harus melewati ‘candi kurung’ sebagai penanda sekaligus pengingat bahwa wilayah yang akan dimasuki adalah wilayah suci, wilayah dimana seseorang diharapkan sudah benar-benar terbebas samasekali dari karakter/pemikiran yang bersifat awidya guna bisa membina hubungan yang harmonis dengan Tuhan dan segala manifestasinya.

 (popbali.com)
Setelah selesai acara persembahyangan, lalu ‘mepamit’ (keluar) dari pura, dia diharapkan tetap memiliki kesadaran spiritual yang tinggi, yakni terus berupaya untuk melepaskan diri dari jebakan dualitas (kondisi awidya), sehingga terepleksi dalam pikiran-ucapan-dan-tindakan yang baik sehari-hari yang disebut dengan “Tri Kaya Parisudha,” dan mampu membina hubungan yang harmonis dengan sesama manusia, lingkungan dan Tuhan dengan segala manifestasinya.

Apakah itu benar-benar bisa dilaksanakan?
Tak jauh berbeda dengan ajaran-ajaran lainnya, spirtualitas Hindu juga mudah diucapkan namun tak mudah dalam pelaksanaannya; melepaskan diri dari jebakan dualitas bukan sesuatu yang mudah. Menerima realitas (kebenaran) sebagai sesuatu yang telah sempurna—thus tak perlu dikeluhkan—juga tidak gampang.

Namun, setidaknya, itulah pesan-pesan spiritual yang ingin disampaikan lewat ragam patung dan relief yang ada di berbagai Pura di Bali. Itulah arah jalan spiritual yang ditunjukkan. Perkara percaya simbul (codex) dan petunjuk yang disampaikan atau tidak, perkara mengikuti petunjuk itu atau tidak, tentunya dikembalikan pada individu masing-masing.

Apakah menurut anda, penjelasan di atas masuk-akal?
Bagi anda, semeton, yang lebih percaya pada akal (dan proses pencarian sendiri) dibandingkan simbul dan pesan sepiritual, saya ingin mengajak anda untuk melihat ragam patung dan relief ini dalam perspektif yang agak berbeda, yaitu dari “pemikiran” filosofis (baca yang berikut ini.)

Patung dan Relief Sebagai Representasi Wajah Kebenaran
Sebelum lebih jauh, kiranya perlu saya sampaikan bahwa apa yang akan saya uraikan pada bagian ini adalah murni hasil pemikiran dan kontemplasi saya pribadi. Jadi mohon untuk tidak repot-repot memikirkan rujukan atau referensi. Silahkan gunakan jika dirasa cocok dan abaikan jika sebaliknya.

Dalam pandangan saya pribadi, ragam patung dan relief yang ada di berbagai Pura di Bali merupakan representasi dari “wajah kebenaran.”
Apa itu kebenaran?
Begitu sering kita mendengar kata “kebenaran.” Dan, begitu banyak orang dari berbagai macam latarbelakang (yang tentu memiliki motivasi berberbeda-beda) mengungkapkan definisinya.
Ada 2 model kebenaran yang paling banyak digunakan sampai saat ini, yaitu:
1. Kebenaran atas dasar keyakinan (baca: kebenaran iman), dimana sesuatu menjadi benar semata-mata karena DIYAKINI. Model kebenaran ini berasal dari konsep-konsep sistim keperayaan, terutama sistim kepercayaan dunia barat yang menarik garis pembatas antara “benar” dengan “salah” secara tegas berdasarkan doktrin dan dalil-dalil agama. Sesuatu disebut kebenaran bila sesuai dengan doktrin dan dalil agama, dan disebut ketidakbenaran bila bertentangan.

2. Kebenaran atas dasar konsensus (baca: kebenaran konsensus), dimana sesuatu menjadi benar semata-mata karena DISEPAKATI. Model kebenaran ini berasal dari konsep-konsep sistim sosial-politik yang menarik garis pembatas antara “benar” dan “salah” secara tegas berdasarkan dalil-dalik hukum dan kesepakatan-kesepakatan (Konvensi, Undang-Undang, Kepres, Kepmen, Perda, Awig Adat, dlsb). Sesuatu disebut kebenaran bila sesuai dengan UU atau peraturan, dan disebut ketidakbenaran bila bertentangan.

Meskipun sumber dan landasannya berbeda, kedua model kebenaran ini memiliki persamaan pola, yakni: kebenaran dipandang sebagai sesuatu yang bersifat “baik” thus harus dipatuhi dan ditegakkan. Sedangkan ketidakbenaran bersifat “buruk” thus harus dicegah, dibuang jauh-jauh, dihindari, diberantas. Dan dalam kondisi tertentu, jika perlu, kebenaran harus dibela agar jangan sampai dikalahkan oleh ketidakbenaran.

Kelemahan dari kedua model ini, setidaknya dari sudut pandang filsafat, adalah sama-sama hanya bersumber dari konsepsi dan persepsi belaka. Sementara, konsepsi dan persepsi masing-masing individu bisa berbeda antara satu dengan yang lainnya, sesuai dengan latarbelakang pengalamannya. Hal inilah yang kemudian membuat kedua model kebenaran ini tidak bersifat unviversal; nilai kebenarannya hanya berlaku di suatu komunitas/wilayah tertentu saja.
Ilustrasi: pembantaian oleh ISIS (Dailysurge.com)
Masalah utama dari kedua model kebenaran di atas adalah sama-sama bisa menjadi pemicu konflik ketika suatu model kebenaran berbenturan dengan model kebenaran lainnya. Di sepanjang sejarah manusia, setidaknya sejak tahun 1 Masehi hingga sekarang, konflik model kebenaran iman (agama)-dan-konsensus (politik)-lah yang paling banyak menimbulkan chaos, huru-hara, dan bentuk kekecauan lainnya yang menelan banyak korban.

Yang sedikit lebih universal dibandingkan kebenaran iman dan konsensus adalah kebenaran atas dasar SAINS, dimana sesuatu dikatakan sebuah kebenaran hanya bila telah melalui UJI KEILMUAN (sains). Model kebenaran ini berasal dari observasi-observasi dan pengumpulan bukti (baca: data) yang kemudian diuji dengan menggunakan metode ilmiah tertentu. Kelemahan terbesar dari model kebenaran sains adalah adanya generalisasi dalam proses penyimpulannya, sementara setiap entitas di alam semesta bersifat unik (tidak bisa digeneralisasi). Kelemahan berikutnya dari model ini adalah sifatnya yang temporal (hanya benar sampai muncul temuan baru beserta pengujian yang menunjukkan hal berbeda.)

Adakah model kebenaran yang bersifat universal dan absolut?
Satu-satunya model kebenaran yang sungguh-sungguh bersifat universal dan absolut adalah kebenaran REALITAS, dimana sesuatu dipandang sebagai sebuah kebenaran bila berupa realitas murni yang tidak atau belum terkontaminasi oleh persepsi, konsepsi, atribut dan pemikiran-pemikiran subyektif.

Misalnya: Apa kebenaran Anda?
Dalam pandangan filsafat, Anda adalah “Anda sendiri sebagaimana adanya” yang samasekali bebas dari embel-embel nama/senioritas/profesi/kasta/strata-ekonomi/latarbelakang-pendidikan/gender/orientasi-seks/suku/etnis/agama/kepercayaan/ras/golongan/bangsa/dll, samasekali tidak termanipulasi oleh persepsi dan konsepsi. Lepaskan “topeng” yang melekat, suka-atau-tidak, baaik-atau-buruk, itulah sejatinya Anda yang sebenar-benarnya.

Model kebenaran ini lah yang digunakan dalam Filsafat, termasuk Filsafat Hindu.
Kebenaran dalam filsafat Hindu adalah REALITAS MURNI (sebagaimana adanya). Sedangkan embel-embel atribut yang nampak dalam pandangan manusia bukanlah bagian dari kebenaran itu sendiri, melainkan hanya “WAJAH KEBENARAN” yang berasal dari persepsi dan konsepsi yang dihasilkan oleh logika dan ego manusia.
 Ilustrasi: Topeng (Balinesedans.nl)

 Nah, wajah kebenaran inilah yang bersifat relative thus nampak sebagai wujud/sosok yang beragam dalam pandangan manusia, sesuai dengan kesadaran spiritualnya masing-masing, seperti wujud/sosok patung dan relief yang ada di berbagai pura di Bali yang juga beragam.

Di mata manusia yang telah terbebas dari jebakan dualitas, realitas (baca: kebenaran) nampak INDAH DAN RUPAWAN, seindah dan serupawan patung-patung dan relief-relief yang ada di berbagai Pura di Bali. Bagi mereka, realitas tetaplah realitas, kebenaran tetaplah kebenaran, maha karyaNYA yang telah sempurna, thus nampak indah seindah patung dan relief yang ada di berbagai pura di Bali, terlepas dari apapun wujudnya; baik itu keberhasilan-atau-kegagagalan, kaya-atau-miskin, suka-atau-duka, bahagia-atau-derita, hidup-atau mati, keduanya sama-sama realitas, keduanya sama-sama beneran yang telah sempurna . Pribadi seperti inilah yang disebut sebagai orang yang “sudah mampu melihat kebenaran.”

Sebaliknya, bagi mereka yang tak berani menghadapi realitas, sebagian dari kebenaran (terutama yang tidak diinginkan) nampak SERAM, seseram patung dan relief yang ada di berbagai pura di Bali. Bagi mereka, kebenaran itu adalah mimpi buruk, momok yang sungguh menakutkan. Begitu menakutkan sehingga ada yang sampai lari terbirit-birit, menjauh dari kebenaran, bahkan ada yang sampai stroke ketika dihadapkan pada kebenaran, saking takutnya.

Lalu, di mata mereka yang tak tahu atau tak mau tahu, kebenaran hanyalah PERMAINAN, permainan pikiran atau kata-kata, sekadar LELUCON untuk ditertawakan.

Terakhir, bagi mereka yang merasa bermoral tinggi, realitas adalah sesuatu yang VULGAR bahkan PORNO, sehigga di mata mereka kebenaran yang TELANJANG BULAT adalah sesuatu yang memalukan. Mungkin itu sebabnya mengapa mereka buru-buru menutupi setiap kebenaran hadir, sebelum sempat mempermalukan dirinya.

Begitulah ragam wajah kebenaran di mata manusia, sama seperti ragam patung dan relief yang ada diberbagai pura di Bali; ada yang nampak indah nan rupawan, ada yang nampak menakutkan, ada yang nampak jenaka, dan ada pula yang terlihat telanjang bulat, vulgar thus dinilai porno oleh sebagian manusia. Namun bagiamanapun juga, setidaknya dalam pandangan filsafat Hindu, kebenaran tetaplah kebenaran, sebuah realitas murni “sebagaimana adanya” terlepas dari apapun persepsi dan konsepsi manusia.


Share this post :

Post Comment

Post a Comment

 
Support : Copyright © 2015. Hindu Damai - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger
UA-51305274-1