Headlines News :

Kalender Bali

Iklan

Total Pageviews

Showing posts with label Pemikiran Semeton. Show all posts
Showing posts with label Pemikiran Semeton. Show all posts

Hari Kebangkitan Nasional Sebagai Momentum Revolusi Mental


DUMAI -- Kebangkitan Nasional merupakan peristiwa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme diikuti dengan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Selama masa penjajahan semangat kebangkitan nasional tidak pernah muncul, hingga berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 dan ikrar Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Organisasi Boedi Oetomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji serta digagas oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo pada awalnya bukan organisasi politik, tetapi lebih kepada organisasi yang bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan.

    Ilustrasi (majalaheducation.com)
Namun seiring berjalannya waktu Boedi Oetomo kemudian menjadi cikal bakal gerakan yang bertujuan untuk kemerdekaan Indonesia.  Kongres pertama Boedi Oetomo diselenggarakan tanggal 3 - 5 Oktober 1908 di Yogyakarta. Saat itu organisasi Boedi Oetomo telah memiliki tujuh cabang di beberapa kota yaitu Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Pada kongres pertamanya ini Raden Adipati Tirtokoesoemo (mantan bupati Karanganyar) yang berasal dari kaum priyayi diangkat sebagai presiden Boedi Oetomo yang pertama. Sejak itu banyak anggota baru yang berasal dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial bergabung dengan organisasi Boedi Oetomo, namun hal ini justru membuat anggota dari kalangan pemuda memilih keluar dari organisasi ini.  Organisasi Boedi Oetomo sendiri dalam perjalanan sejarahnya mengalami beberapa kali pergantian pimpinan dan sebagian besar berasal dari kalangan bangsawan seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo, Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman.

Berturut-turut setelah Boedi Oetomo didirikan pada tahun 1908 diikuti berdirinya Partai Politik pertama di Indonesia Indische Partij pada tahun 1912, kemudian pada tahun yang sama Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam di Solo, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta, Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jiwa Bersama Boemi Poetra di Magelang. Karena dianggap sebagai organisasi yang menjadi pelopor bagi organisasi kebangsaan lainnya seperti  disebutkan di atas, maka tanggal kelahiran Boedi Oetomo yaitu 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Kebangkitan nasional adalah sebuah proses dan tonggaknya tidak bisa disederhanakan dengan menetapkan tanggal tertentu dari sebuah momen tertentu, dari perkumpulan tertentu. Bangsa Indonesia membutuhkan tonggak itu, maka ditetapkanlah 20 Mei sebagai tonggak Kebangkitan Nasional.          

Sebagai Pemuda yang peduli akan kemajuan bangsa, sudah sepantasnyalah kita memperingati momen bersejarah tanggal 20 mei sebagai simbol Kebangkitan Bangsa, walaupun ada  ahli sejarah yang menggugat tanggal penetapan Hari Kebangkitan Nasional yang harus diperingati. Ada yang  pro dan  kontra jika ditanya tentang keabsahan hari tersebut Saat ini yang terpenting bukanlah mengubah tanggal kebangkitan nasional atau mengubah apa yang ingin diperingati, yang terpenting adalah memperjelas semua peristiwa sejarah, melepasnya dari interest-interest, apapun itu.  Hanya saja, Hari Kebangkitan Nasional dirayakan dengan megah, tapi sebagian besar orang sudah tidak lagi merasa tergugah kebangsaannya. Dipastikan ada masalah dengan konstruksi tentang kebangsaan, setidak-tidaknya tentang kebutuhan bangsa tentang bagaimana memaknai dan mengisi kemerdekaan yang dulu diperjuangkan oleh pendahulu kita.

Gerakan nasional Revolusi Mental yang digaungkan oleh pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla merupakan gerakan segenap rakyat dan bangsa Indonesia. Revolusi Mental melalui Gerakan Hidup Baru akan menghidupkan kembali dan menggelorakan idealisme sebagai sebuah bangsa, menggelorakan kembali rasa keikhlasan dan gotong-royong sesama anak bangsa. Oleh karena itu, gerakan nasional Revolusi Mental sebagai gerakan hidup baru rakyat Indonesia membutuhkan keteladan dan kepeloporan. Keteladanan dan kepeloporan itu,  harus dimulai dari aparatur pemerintahan dengan mengubah cara berfikir, kerja dan cara berperilaku. Sebagai agen perubahan, sebagai pelopor, berharap kita semua  mulai saat ini dapat menginternalisasi tiga nilai strategis instrumental Revolusi Mental, yaitu integritas, kerja keras dan gotong royong. 

Presiden Jokowi  (marketeers.com)
Momentum Hari Kebangkitan Nasional  tahun  2015  ini harus kita sikapi sebagai momentum revolusi mental menuju Indonesia yang lebih baik. Revolusi Mental sendiri merupakan jargon yang diusung presiden terpilih Jokowi sejak masa kampanye Pemilu Presiden 2014.  Presiden Jokowi mengatakan revolusi mental berarti warga Indonesia harus mengenal karakter orisinal bangsa.  Indonesia,   merupakan bangsa yang berkarakter santun, ramah, berbudi pekerti, dan bergotong royong. Karakter tersebut merupakan modal yang seharusnya dapat membuat rakyat sejahtera. Tetapi sedikit demi sedikit karakter  itu berubah,  masyarakat tidak menyadarinya dan tidak ada yang ngerem, akhirnya yang seperti itulah yang merusak mental.
Perubahan karakter bangsa tersebut, merupakan akar dari munculnya korupsi, kolusi, nepotisme, etos kerja tidak baik, bobroknya birokrasi, hingga ketidaksiplinan. Kondisi itu dibiarkan selama bertahun-tahun dan pada akhirnya hadir di setiap sendi bangsa.  Oleh sebab itu, revolusi mental harus ada.   Terminologi "revolusi",  tidak selalu berarti perang melawan penjajah.  Revolusi merupakan refleksi tajam bahwa karakter bangsa harus dikembalikan pada aslinya. Kalau ada kerusakan di nilai kedisiplinan, seharusnya ada perbaikan nilai-nilai kedisplinannya, bisa mengubah pola pikir, mindset, agar dapat memperbaikinya.   

Salah satu jalan untuk revolusi adalah lewat pendidikan yang berkualitas dan merata, serta penegakan hukum yang tanpa pandang bulu. Kita harus mengembalikan karakter warga negara ke apa yang menjadi keaslian kita, orisinalitas kita, identitas kita, Presiden Jokowi  berkeyakinan, dengan komitmen pemerintah yang kuat disertai kesadaran seluruh warga negara, Indonesia dapat berubah ke arah yang lebih baik. Sementara itu, isu-isu mahasiswa akan melakukan demo besar-besaran seperti telah beredar broadcast ajakan untuk mengikuti aksi dari pihak yang mengatasnamakan Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI) pada 20 Mei 2015 tepat di Hari Kebangkitan Nasional, dengan  mengajak hampir seluruh lembaga mahasiswa, seperti Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim (KAMMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Mahasiswa Pembebasan (Gema Pembebasan), dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).  Kemudian Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Lembaga Dakwah Kampus (LDK), Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (Himahbudhi), Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Pelajar Islam Indonesia (PII), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), dan juga seluruh mahasiswa lainnya untuk bergabung dalam aksi serentak tanggal 20 Mei 2015 dengan agenda penurunan Presiden Jokowi. 

Jokowi dinilai telah mengingkari janjinya serta membuat kebijakan yang sangat mencekik rakyat.  Kesulitan dipicu kenaikan harga BBM dan bahan pokok, harga gas semakin mahal, tarif dasar listrik naik terus, tarif kereta api naik, tatanan hukum amburadul, nilai rupiah semakin jatuh, dan utang negara bertambah. Kemudian institusi Polri dan KPK semakin gagal, konflik politik tidak terkendali, biaya hidup semakin mahal karena mengikuti kenaikan harga BBM, tunjangan pejabat dinaikkan, dan rajin blusukan ke luar negeri di saat rakyat Indonesia semakin kesusahan. Kita sebagai generasi muda khususnya mahasiswa yang merupakan kaum intelektual hendaknya dapat mencarikan solusi, bagaimana agar gerakan revolusi mental yang dicanangkan pemerintah dapat berjalan maksimal. Kalau ada kinerja yang dianggap kurang baik dari pemerintah,  hendaknya  dapat mencarikan solusi agar  kekurangmaksimalan dari kinerja pemerintah dapat diperbaiki. Protes dari mahasiswa dengan melakukan aksi unjuk rasa maka tidak akan memberikan solusi, malah menambah permasalahan.  Perwakilan mahasiswa sebaiknya dapat duduk satu meja dengan pemerintah baik di daerah maupun pusat agar dapat memberikan masukan-masukan apabila kebijakan dari pemerintah dipandang merugikan rakyat. 

Diharapkan pemerintah juga mau mendengarkan masukan-masukan yang realistis dari para mahasiswa,  karena pemerintah perlu waktu untuk memperbaiki keadaan saat ini, dan  pemerintahan Jokowi baru berjalan sekitar 7 bulan yang pastinya perlu pendampingan dari semua elemen masyarakat  termasuk mahasiswa dalam mengisi pembangunan  agar Momentum Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2015 ini dapat dijadikan sebagai momentum revolusi mental menuju Indonesia yang lebih baik.

 Dikutip dari Kompasiana, Rabu (20/5).

Berikut Ulasan Penting Tentang Nama "Hindu"

DUMAI - Saya merasa perlu untuk mengklarifikasi mengenai penggunaan kata “Hindu” dan “Hinduisme”. Faktanya memang benar “Hinduisme” didasari pada pengetahuan Veda, yang mana berhubungan kepada identitas spiritual kita. Banyak orang menerimanya berarti sama dengan Sanatana-dharma, yang sebenarnya adalah istilah Sanskerta yang lebih akurat untuk jalan Veda. Identitas tersebut melampaui segala nama sementara sebagai Kristen, Islam, Buddha, atau bahkan Hindu. Bagaimanapun, Tuhan tidak pernah menggambarkan diri-Nya sebagai milik kategori tersebut, mengatakan bahwa Dia adalah hanya Tuhan Kristen, Tuhan Muslim, atau Tuhan Hindu. Oleh karena itu beberapa guru besar spiritualis dari India telah menjauhi pengidentifikasian diri sebagai orang Hindu saja. Jalan Veda itu abadi, dan karena itu melampaui segala sebutan sementara itu. Jadi saya menyebut nama "Hindu" penunjukan sementara?
Ilustrasi
Kita harus ingat bahwa istilah “Hindu” itu bahkan bukan istilah Sanskerta. Banyak ahli mengatakan bahwa itu tidak ditemukan di dalam Sastra Veda manapun. Jadi bagaimana bisa nama seperti itu mewakili jalan atau tradisi Veda? Dan tanpa sastra Veda, tidak ada dasar untuk “Hinduisme.”

Banyak ahli merasa bahwa nama “Hindu” telah dikembang pihak lain, para penyerbu yang tidak bisa menyebut nama Sungai Sindhu dengan baik. Menurut Sir Monier Williams, leksikografer Sanskerta, anda tidak dapat menemukan akar pribumi untuk kata-kata Hindu atau India. Tidak juga kata-kata tersebut ditemukan dalam setiap teks-teks Buddha atau Jain, atau salah satu dari 23 bahasa resmi India.
Beberapa sumber melaporkan bahwa Alexander Agung yang pertama kali merubah nama Sungai Sindhu menjadi Indu, menghilangkan huruf “S”, guna memudahkan pengucapan bagi orang Yunani. Inilah kemudian dikenal sebagai Indus. Ini ketika Alexander menyerbu India sekitar tahun 325 BCE. Kekuatan Macedoniannya sesudah itu disebut daratan timur Indus sebagai India, sebuah nama yang digunakan terutama selama rezim Inggris. Sebelum ini, nama Veda untuk daerah itu adalah Bharath Varsha, di mana banyak orang masih lebih suka menyebutnya dengan nama itu.

Kemudian, ketika penyerbu Muslim tiba dari tempat-tempat seperti Afghanistan dan Persia, mereka menyebut Sungai Sindhu sebagai Sungai Hindu. Setelah itu, nama "Hindu" digunakan untuk menggambarkan saluran penduduk dari tanah di propinsi barat laut dari India di mana terletak Sungai Sindhu, dan daerah itu sendiri disebut "Hindustan.” Karena suara Sansekerta “S” berubah menjadi “H” dalam bahasa Persia, Muslim menyebut “Sindhu” sebagai “Hindu,” meskipun pada saat orang-orang dari daerah itu tidak menggunakan nama "Hindu" sendiri. Kata ini digunakan oleh Muslim asing untuk mengidentifikasi orang-orang dan agama di mana orang-orang tersebut tinggal di daerah itu. Setelah itu, bahkan orang Indian sesuai dengan standar tersebut sebagaimana ditetapkan oleh mereka yang berkuasa dan menggunakan nama-nama Hindu dan Hindustan. Sebaliknya, kata itu tidak memiliki makna kecuali orang-orang memberinya arti atau sekarang digunakan di luar kegunaan.

Sebuah pemandangan lain tentang nama “Hindu” menunjukkan kebingungan alami untuk mengerti esensi sebenarnya dari jalan spiritual India. Seperti yang ditulis oleh RN Suryanarayan dalam bukunya Agama Universal (p.1-2, yang diterbitkan di Mysore pada tahun 1952), “Situasi politik di negara kita sejak berabad lalu, sebut saja 20-25 abad, telah membuatnya sangat sulit untuk memahami sifat bangsa ini dan agamanya. Sarjana Barat, dan sejarawan juga, telah gagal untuk melacak nama sejati ini Tanah Brahman, benua yang luas seperti negara, dan oleh karena itu, mereka telah puas diri dengan menyebutnya dengan istilah yang berarti 'Hindu'. Kata ini, yang merupakan inovasi asing, tidak terbuat dari penggunaan oleh penulis Sansekerta kami dan Acharya yang dihormati dalam karya-karya mereka. Tampaknya kekuasaan politik bertanggung jawab untuk terus-menerus menekankan penggunaan kata Hindu. Kata Hindu ditemukan, tentu saja, dalam sastra Persia. Hindu-e-Falak berarti 'kegelapan dari langit' dan 'Saturnus'. Dalam bahasa Arab Hind bukan Hindu berarti bangsa. Hal ini memalukan dan menggelikan telah membaca selama ini dalam sejarah bahwa nama Hindu diberikan oleh orang-orang Persia kepada penduduk negara kami ketika mereka mendarat di tanah suci Sindhu."

Lokasi di mana kata "Hindu" terjadi untuk apa beberapa orang merasa pertama kalinya dalam Avesta dari Iran dalam deskripsi negara India dan rakyatnya. Seperti negara agama Zorastrime, kata tampaknya mengambil makna yang menghina. Dan tentu saja sebagai mana Islam menyebar di India, kata "Hindu" dan "Hindustan" menjadi semakin tidak dihormati dan bahkan dibenci di arena Persia, dan lebih menonjol dalam sastra Persia dan Arab setelah abad ke-11.

Pandangan lain sumber nama Hindu didasarkan pada makna menghina. Dikatakan bahwa, "Selain itu, benar bahwa nama ini [Hindu] telah diberikan kepada ras Arya asli daerah penyerbu Muslim untuk mempermalukan mereka. Dalam bahasa Persia, kata penulis kami, kata tersebut berarti budak, dan menurut Islam, semua orang yang tidak memeluk Islam disebut sebagai budak. "(Dayanand Saraswati Shri Maharishi Aur Unka Kaam, diedit oleh Lala Lajpat Rai, diterbitkan di Lahore, 1898 dalam Pendahuluan).

Lebih jauh lagi, sebuah kamus Persia berjudul Lughet-e-Kishwari, diterbitkan di Lucknow pada tahun 1964, memberikan arti kata Hindu sebagai "tugas [pencuri], dakoo [Perampok], raahzan [waylayer], dan Ghulam [budak]." Di kamus lain, bahasa Urdu-Feroze-ul-Laghat (Bagian Pertama, hal 615) Persia arti kata Hindu adalah lebih lanjut digambarkan sebagai Barda (hamba yang taat), sia faam (warna hitam) dan kaalaa (hitam). Jadi semua ini adalah ungkapan menghina untuk menerjemahkan istilah Hindu sebagai label Persia atas rakyat India.

Jadi, pada dasarnya, Hindu hanyalah kelanjutan dari istilah seorang muslim yang menjadi populer hanya dalam 1300 tahun terakhir. Dengan cara ini, kita dapat memahami bahwa ini bukan istilah Sansekerta yang valid, juga tidak ada hubungannya dengan budaya Veda atau jalan spiritual Veda. Tidak ada agama yang pernah ada yang disebut "Hinduisme" sampai orang-orang India pada umumnya memberi nilai pada nama itu, seperti yang diberikan oleh mereka yang didominasi atas mereka, dan menerima penggunaannya. Selanjutnya, istilah telah digunakan untuk menyampaikan konotasi merendahkan. Jadi, apakah itu tidak mengherankan bahwa beberapa acharya India dan organisasi Weda tidak peduli untuk menggunakan istilah?

Kebingungan yang sesungguhnya dimulai ketika nama "Hindu" digunakan untuk menunjukkan agama orang India. Kata-kata "Hindu" dan "Hinduisme" sering digunakan oleh Inggris dengan efek fokus pada perbedaan agama antara kaum muslim dan orang-orang yang menjadi dikenal sebagai "Hindu". Ini dilakukan dengan niat yang agak sukses menciptakan gesekan di kalangan masyarakat India. Hal ini sesuai dengan kebijakan Inggris atas pembagian dan aturan untuk membuatnya lebih mudah bagi mereka yang terus berkuasa atas negeri itu.

Namun, kami harus menyebutkan bahwa orang lain yang mencoba untuk membenarkan kata "Hindu" sekarang adalah gagasan dari para Resi terda
hulu, beberapa ribu tahun yang lalu, juga disebut India tengah Hindustan, dan orang-orang yang tinggal di sana adalah Hindu. Sloka berikut, dikatakan dari Vishnu Purana, Padma Purana dan Samhita Bruhaspati, diberikan sebagai bukti, namun saya masih menunggu untuk mempelajari lokasi yang tepat di mana kita dapat menemukan ayat ini:
Beberapa referensi lain yang digunakan, meskipun lokasi yang tepat tidak saya yakini, meliputi:
Himalayam Samaarafya Yaavat Hindu Sarovaram
Tham Devanirmmitham desham Hindustanam Prachakshathe


Himalyam muthal Indian maha samudhram vareyulla
devanirmmithamaya deshaththe Hindustanam ennu parayunnu

Ini lagi menunjukkan bahwa daerah antara Himalaya dan Samudera Hindia disebut Hindustan. Dengan demikian, kesimpulan dari hal ini adalah bahwa semua orang India beragama Hindu tanpa memandang kasta dan agama. Tentu saja, tidak semua orang akan setuju dengan itu.

Orang lain mengatakan bahwa di dalam Rig Veda, Bharata disebut sebagai negara "Sapta Sindhu", yaitu negara tujuh sungai besar. Hal ini, tentu saja, dapat diterima. Namun, tepatnya bab dan buku yang dapat berasal dari sloka ini perlu diluruskan. Meski demikian, beberapa orang mengatakan bahwa kata "Sindhu" merujuk pada sungai dan laut, dan tidak hanya ke sungai tertentu yang disebut "Sindhu". Lebih jauh lagi, dikatakan bahwa dalam Weda Sansekerta, menurut kamus kuno, "sa" diucapkan sebagai "ha". Jadi "Sapta Sindhu" diucapkan sebagai "Hapta Hindu".

Jadi, ini adalah bagaimana kata "Hindu" dianggap telah terwujud. Hal ini juga mengatakan bahwa Persia kuno Bharat disebut sebagai "Hapta Hind", sebagaimana dicatat dalam klasik kuno mereka "Bem Riyadh". Jadi, ini adalah alasan lain mengapa beberapa ahli mulai percaya bahwa kata "Hindu" itu berasal di Persia.
Teori lain adalah bahwa nama "Hindu" bahkan tidak berasal dari nama Sindhu. Mr A. Krishna Kumar dari Hyderabad, India menjelaskan. "Ini [Sindhu / Hindu] Pandangan ini tidak dapat dipertahankan karena India pada waktu itu mengagumkan peringkat tertinggi di dunia dalam hal peradaban dan kekayaan tidak akan tanpa nama. Mereka tidak aborigin yang tidak diketahui yang menunggu untuk ditemukan, diidentifikasi dan dibaptis oleh orang asing. "Dia mengutip sebuah argumen dari buku Self-Government di India oleh NB Pavgee, yang diterbitkan pada tahun 1912. Penulis menceritakan Swami tua dan sarjana sanskrit Mangal Nathji, yang menemukan Purana kuno yang dikenal sebagai Sham Brihannaradi di desa, Hoshiarpur, Punjab. Itu berisi sloka ini:

himalayam samarabhya yavat bindusarovaram
hindusthanamiti qyatam hi antaraksharayogatah

Sekali lagi lokasi yang tepat dari sloka tersebut dalam Purana hilang, tapi Kumar menerjemahkannya sebagai: "Negeri yang terletak di antara pegunungan Himalaya dan Bindu Sarovara (laut Cape Comorin) dikenal sebagai Hindusthan oleh kombinasi dari huruf pertama 'hi' dari 'Himalaya'dan senyawa terakhir huruf 'ndu'dari kata 'Bindu’."

Hal ini, tentu saja, dianggap telah melahirkan nama "Hindu", menunjukkan asal pribumi. Kesimpulan bahwa orang-orang yang tinggal di daerah ini dengan demikian dikenal sebagai "Hindu".

Jadi sekali lagi, dengan cara apapun teori-teori ini dapat menyajikan informasi mereka, dan dengan cara apa pun Anda melihat itu, nama "Hindu" mulai hanya sebagai tubuh dan penunjukan daerah. Nama "Hindu" menunjuk ke sebuah lokasi dan orang-orang dan awalnya tidak ada hubungannya dengan filsafat, agama atau budaya rakyat, yang pasti bisa berubah dari satu hal ke hal lain. Hal ini seperti mengatakan bahwa semua orang dari India adalah India. Tentu saja, yang dapat diterima sebagai nama yang mengacu ke sebuah lokasi, tapi bagaimana dengan agama mereka, iman dan filsafat? Ini dikenal dengan banyak nama sesuai dengan berbagai pandangan dan keyakinan. Jadi, mereka tidak semua orang Hindu, karena banyak orang yang tidak mengikuti sistem Veda sudah keberatan dengan menyebut diri mereka dengan nama itu. Maka "Hindu" bukanlah nama yang paling tepat dari sebuah jalan spiritual, tetapi istilah sanskrit Sanatana-dharma jauh lebih akurat. Budaya India kuno dan sejarah awal mereka adalah budaya Veda atau Veda Dharma. Sehingga lebih tepat untuk menggunakan nama yang didasarkan pada budaya bagi mereka yang mengikutinya, bukan nama yang hanya alamat lokasi suatu bangsa.

Tampaknya hanya dengan raja-raja kekaisaran Wijayanagara pada tahun 1352 adalah kata "Hindu" digunakan dengan bangga oleh Bukkal yang menggambarkan dirinya sebagai "Hinduraya suratrana". Sedangkan teks-teks Sansekerta utama, dan bahkan ritual-ritual yang telah dilakukan di kuil-kuil dari ribuan tahun yang lalu, menggunakan kata "Bharata" dalam referensi ke daerah saat ini india. Oleh karena itu, secara tradisional dan secara teknis lebih akurat untuk merujuk ke tanah India sebagai "Bharata" atau "Bharat varsha".

Sayangnya, kata "Hindu" secara bertahap telah diadopsi oleh hampir semua orang, bahkan orang-orang India, dan sekarang diterapkan dalam cara yang sangat umum, begitu banyak sehingga, sebenarnya, bahwa sekarang "Hindu" sering digunakan untuk menjelaskan apa-apa dari kegiatan keagamaan bahkan kegiatan sosial India atau nasionalistis. Beberapa dari apa yang disebut "Hindu" peristiwa-peristiwa yang tidak didukung dalam literatur Veda, dan, karenanya, harus dianggap non-Veda. Dengan demikian, tidak sembarang orang bisa menyebut diri mereka sebagai "Hindu" dan masih dianggap sebagai pengikut jalan Veda. Juga bisa santai setiap aktivitas dapat disebut sebagai bagian dari Hindu dan berpikir panjang dianggap sebagai bagian dari budaya Veda sejati.

Oleh karena itu, jalan spiritual Veda lebih tepat disebut Sanatana-dharma, yang berarti abadi, pendudukan jiwa yang tidak berubah dalam hubungannya dengan Yang Mahatinggi. Sama seperti dharma dari gula adalah menjadi manis, ini tidak berubah. Dan jika tidak manis, maka itu bukan gula. Atau dharma dari api adalah untuk memberi kehangatan dan cahaya. Jika tidak seperti itu, maka itu bukan api. Dengan cara yang sama, ada Dharma tertentu atau sifat dari jiwa, yang Sanatana, atau abadi. Itu tidak berubah. Jadi ada keadaan dharma dan jalan dharma. Mengikuti prinsip-prinsip Sanatana-dharma dapat membawa kita kepada keadaan yang murni memperoleh kembali identitas rohani kita yang terlupakan dan hubungan dengan Tuhan. Ini adalah tujuan dari pengetahuan Veda dan sistem realisasi diri. Dengan demikian, pengetahuan tentang Veda dan semua literatur Veda, seperti pesan Krsna dalam Bhagavad-gita, serta ajaran-ajaran Upanishad dan Purana, tidak terbatas hanya "Hindu" yang terbatas pada wilayah tertentu atas planet atau keluarga kelahiran. Pengetahuan semacam itu sebenarnya dimaksudkan untuk seluruh dunia. Seperti setiap orang adalah makhluk rohani dan memiliki esensi spiritual yang sama seperti yang dijelaskan sesuai dengan prinsip-prinsip Sanatana-dharma, maka setiap orang harus diberi hak dan hak istimewa untuk memahami pengetahuan ini. Hal ini tidak dapat diadakan untuk kelompok atau wilayah eksklusif suatu penduduk.

Sanatana-dharma juga berkembang penuh filosofi spiritual yang mengisi celah-celah apa pun dapat dibiarkan oleh ajaran-ajaran filosofis agama lain yang kurang berkembang. Pengetahuan langsung tentang jiwa adalah sebuah "universal kebenaran rohani" yang dapat diterapkan oleh semua orang, dalam setiap bagian dunia, di setiap saat dalam sejarah, dan dalam setiap agama. Ini adalah abadi. Oleh karena itu, sebagai sebuah kebenaran rohani abadi, itu melampaui semua waktu dan sebutan duniawi. Pengetahuan tentang jiwa adalah esensi dari kebijaksanaan Veda dan lebih daripada apa arti nama "Hindu", terutama setelah memahami dari mana nama itu datang.

Bahkan jika waktunya tiba pada zaman buruk Kali-Yuga setelah banyak ribuan tahun ketika agama Kristen, Islam, Buddha, dan bahkan agama Hindu (seperti yang kita sebut sekarang) mungkin hilang dari muka bumi, masih akan ada ajaran-ajaran Veda yang tetap sebagai sebuah kebenaran spiritual dan universal, bahkan jika kebenaran tersebut mungkin akan dilupakan dan harus didirikan kembali lagi di dunia ini oleh Tuhan Krsna sendiri. Saya ragu kemudian bahwa Beliau akan menggunakan nama "Hindu." Beliau pasti mengatakan apa yang Beliau katakan ketika Beliau menyabdakan Bhagavad-gita terakhir kali.

Jadi, meskipun saya tidak merasa bahwa "Hindu" adalah istilah yang tepat untuk mewakili budaya Arya Veda atau jalan spiritual, saya juga menggunakan kata itu dari waktu ke waktu untuk arti yang sama karena sudah jadi bagian dari kosa kata semua orang . Kalau tidak, karena saya mengikuti jalan Veda Sanatana-dharma, saya menyebut diriku Sanatana-dharmist. Yang mengurangi kebutuhan untuk menggunakan label "Hindu" dan juga membantu memusatkan perhatian pada sifat universal jalan Veda. Oleh karena itu, saya mengusulkan bahwa semua orang yang menganggap dirinya sebagai orang Hindu mulai menggunakan istilah ini Sanatana-dharmist, yang tidak hanya mengacu pada terminologi Sansekerta yang benar, tapi juga lebih akurat menggambarkan karakter dan spiritual maksud sesungguhnya dari jalan Veda. Orang lain juga telah menggunakan istilah Sanatanis atau bahkan Dharmists, keduanya lebih dekat ke arti sesungguhnya dalam budaya Weda.

Namun, untuk tujuan-tujuan politik dan hukum mungkin nyaman untuk terus menggunakan nama Hindu untuk sementara waktu. Sampai istilah Sanatana-dharma atau Dharma Veda menjadi lebih diakui oleh hukum internasional dan masyarakat pada umumnya, "Hindu" dapat tetap berada di belakang istilah yang digunakan untuk pawai budaya Veda. Tapi dalam jangka panjang, itu adalah nama yang akan berubah dalam arti pandangan yang berbeda-beda karena kurangnya dasar linguistik yang nyata. Hanya didasarkan pada nilai-nilai orang-orang tempat di dalamnya, makna dan tujuan akan bervariasi dari orang ke orang, budaya ke budaya, dan tentu saja dari generasi ke generasi. Kita bisa melihat bagaimana hal ini terjadi dengan orang Inggris di India. Jadi, akan ada pelestarian masalah dengan nama dan mengapa beberapa orang dan kelompok tidak akan mau menerimanya.

Namun dengan terus-menerus dan meningkatnya penggunaan istilah Sanatana dharma atau Veda-dharma, setidaknya oleh orang-orang yang lebih sadar akan definitif dasar sanskrit istilah-istilah ini, mereka akan memperoleh pengakuan sebagai istilah yang lebih tepat. Itu hanya butuh waktu untuk membuat penyesuaian yang tepat.

Ini adalah cara untuk membantu menyembuhkan salah tafsir atau kesalahpahaman
yang mungkin berasal dari penggunaan nama "Hindu," dan juga mengakhiri alasan mengapa beberapa kelompok yang tidak peduli untuk mengidentifikasi diri mereka di bawah nama itu. Setelah semua, sebagian besar kelompok Veda, terlepas dari orientasi mereka dan jalan khusus yang mereka ikuti, pasti bisa bersatu di belakang istilah Veda Dharma.

LAMPIRAN:

Srila Prabhupada, pendiri International Society of Krishna Consciousness, telah mengatakan hal yang berbeda pada waktu yang berbeda atau bagi orang yang berbeda mengenai penggunaan nama "Hindu". Banyak anggota ISKCON tampaknya berpikir bahwa nama Hindu harus dihindari. Dan pada berbagai kesempatan Srila Prabhupada ISKCON bilang anggota tidak harus Hindu.

Namun, ia menjelaskan secara ringkas kepada Janmanjaya dan Taradevi dalam sebuah surat dari Los Angeles dari 9 Juli 1970 bahwa ada hubungan antara agama Hindu dan Krishna Consciousness:

"Mengenai pertanyaan Anda: Hindu berarti budaya India. India kebetulan terletak di sisi lain Sungai Indus yang sekarang di Pakistan yang dieja Indus-dalam bahasa Sansekerta disebut Sindhu. Di mana “Sindhu” adalah salah eja oleh Eropa sebagai “Indus”, dan dari Indus kata 'India' datang. Demikian pula Arab biasanya mengucapkan sindhus sebagai Hindu. Ini [demikian] Hindu diucapkan sebagai Hindu. Ini bukanlah kata Sanskerta juga tidak ditemukan dalam literatur Veda. Tetapi budaya India atau Hindu adalah Veda dan mulai dengan Catur Varna dan Catur Ashrama. Jadi ini empat varna dan ashrama dimaksudkan untuk ras manusia yang benar-benar beradab. Oleh karena itu, kesimpulannya adalah sebenarnya ketika manusia beradab dalam arti sebenarnya dari istilah dia mengikuti sistem varna dan ashrama dan kemudian ia dapat disebut 'Hindu'. Gerakan Kesadaran Krishna kita mengajarkan keempat varna dan empat ashrama, jadi tentu saja telah punya hubungan dengan Hindu. Jadi Hindu dapat dipahami dari sudut pandang budaya, bukan sudut pandang agama. Budaya tidak pernah agama. Religi adalah iman, dan budaya merupakan kemajuan pendidikan atau pengetahuan. "


Dia lebih jauh mengatakan dalam sebuah surat dari Los Angeles, 16 Juli 1970, di mana dia menjawab pertanyaan untuk sebuah Nevatiaji:

" Orang Amerika sangat cerdas, anak laki-laki dan perempuan berkualitas sehingga mereka memahami prinsip-prinsip sebagaimana aslinya dan dengan demikian mereka menerimanya. Mereka memahami bahwa Gerakan Kesadaran Krsna bukanlah India atau Hindu, tetapi merupakan gerakan budaya bagi seluruh masyarakat manusia walaupun tentu saja karena yang datang dari India merupakan [orang] India dan keturunan Hindu. "

Dengan cara ini, Srila Prabhupada membedakan Kesadaran Krishna sebagai sebuah ke-universal-an, budaya dan gerakan spiritual yang dapat berdiri sendiri, terlepas dari agama tertentu dan perbedaan budaya. Namun, ia masih menceritakan bagaimana pastinya ada orang India dan Hindu memiliki hubungan dengan apa yang disajikan dalam gerakannya. Dan ini tidak harus dan tidak seharusnya benar-benar diabaikan atau dihindari. Kita tentu saja dapat bekerja sama untuk pelestarian dan promosi budaya Veda tanpa kesulitan dengan orang-orang yang mungkin lebih suka menyebut diri mereka Hindu, mengetahui hubungan kita dengan tradisi Veda.

Penulis asli adalah Stephen Knapp yang diterjemahkan dari halaman www.stephen-knapp.com

Ini Buktinya, Presiden Joko Widodo Pemimpin Tegas

DUMAI - Selama ini masyarakat selalu melihat sosok Joko Widodo (Jokowi) yang kalem, adem dan sederhana yang melekat pada Presiden Indonesia Ketujuh tersebut. Namun, siapa sangka, ternyata Jokowi lebih tegas dari apa yang masyarakat Indonesia pikirkan selama ini.
Presiden Jokowi (businesslounge.co)
Ketegasan Presiden Jokowi bisa dilihat dari berbagai kebijakan yang beliau ambil dan putuskan selama baru beberapa menjabat. Pertama, kebijakan pemerintah Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) dalam menindak para pelaku illegal fishing atau praktik pencurian ikan di perairan Indonesia dinilai sebagai sikap yang patut diapresiasi. 

Presiden Jokowi dengan memberi perintah kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti untuk tidak segan-segan menenggelamkan kapal asing tanpa izin resmi yang mengambil kekayaan Indonesia antara lain melakukan penangkapan ikan secara ilegal.

Ketegasan Presiden Jokowi yang kedua yakni dengan tegas akan mengeksekusi mati dua warga asing Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, pemimpin kelompok penyelundup narkoba asal Australia yang dijuluki ‘Bali Nine”, yag kini menunggu eksekusi mati di pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Yang ketiga, Presiden Joko Widodo yang berpenampilan low profile ternyata bersikap tegas sepanjang pertemuan bilateral pada KTT APEC di Beijing. Sejumlah kepala negara kaget, tercengang dan kagum menghadapi Jokowi. Presiden Jokowi yang belum sebulan dilantik ini mendapat perlakuan istimewa selama KTT APEC. Jokowi juga mendapat tempat di antara para pemimpin negara-negara terkemuka dunia. Sejumlah kepala negara yang bertemu Jokowi seperti Presiden Amerika Serikan Barack Obama, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abee, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden Viet Nam, Truong Tan Sang.

Dari beberapa keputusan dan kebijakan yang diambil Presiden Jokowi diatas, sudah menandakan bahwa beliau adalah seorang pemimpin negara yang tegas. Jokowi ingin memberi perbedaan dengan Presiden sebelumnya, dengan membawa NKRI kearah yang lebih baik lagi dan menunjukkan pada pemerintahannya agar dikenal punya ketegasan yang kuat demi kepentingan bangsa dan negara.

Hari Suci Siwaratri: Malam Kesadaran, Bukan Penebusan Dosa

DUMAI – Kisah Lubdhaka yang diceritakan sebagai seorang pemburu yang kemudian berhasil masuk surga rupanya telah mengobsesi sebagian kalangan umat untuk bergiat mengikuti acara malam Siwaratri dengan harapan bisa mengikuti jejak Lubdhaka.
 Ilustrasi
Lubdhaka yang meskipun banyak melakukan perbuatan dosa, lantaran ia adalah seorang pembunuh (binatang), namun akhirnya berhasil mencapai surga, sebuah tempat yang selalu menjadi impian umat untuk dicapai setelah kematian menjemput.

Pemahaman yang demikian sempit dan dangkal inilah yang tampaknya membuat kesalahpahaman terhadap arti dan makna hari suci Siwaratri yang tahun ini akan dilaksanakan pada hari ini 19 Januari 2015.

Kebanyakan umat Hindu (awam), akhirnya berkembang menjadi pendapat umum, bahwa Siwaratri dianggap sebagai malam penebusan dosa. Padahal secara harfiah, arti kata Siwaratri, lengkapnya Siwaratri Kalpa adalah sebagai malam penghormatan Siwa yang sepatutnya dimaknai sebagai malam kesadaran (tan mrema, tan aturu) bukan sekadar begadang semalam suntuk lalu berharap segala dosa ditebus, kemudian setelah ajal menjemput surga menyambut.

Alur cerita Siwaratri yang menampilkan gambaran hidup Lubdaka yang adalah seorang pemburu lalu masuk surga, mengesankan betapa dosa itu bisa dengan mudah ditebus oleh seseorang yang keseharian hidupnya terbiasa merlakukan Himsa Karma, membunuh binatang yang hakikatnya makhluk hidup juga.

Jika disimak lebih dalam makna satwa (kebenaran) dibalik satu (penceritaan) Siwaratri, didapat pemahaman, sesungguhnya semua kisah lengkap tentang perjalanan hidup Lubdaka, adalah gambaran tentang kehidupan kita, yang diingatkan untuk selalu berikhtiar mencari dan akhirnya menemukan Sang Jati Diri (atutur ikang atma ri jatinya) sebagai jalan mencapai Sang Mulajadi, Tuhan itu sendiri.

Jati diri sebagai homo religious yang senantiasa dituntun sekaligus dituntut untuk selalu berusaha meningkatkan kualitas diri, lahir bathin: material spiritual. Karena itu kisah perjalanan Lubdaka sebenarnya merupakan episode kehidupan manusia yang pada akhirnya harus kembali kepada-Nya dengan cara pelan tapi pasti agar meninggalkan kehidupan duniawi yang diikat raga (indria) dan selalu berbuah papa (hina, sengsara).

Itulah sebabnya Lubdaka digambarkan pergi meninggalkan rumah, anak dan istri menuju ke hutan jauh dari keramaian dunia yang akrab dengan keinginan duniawi. Harapannya agar ia menemukan marga satwa (jalan kebenaran) dalam usahanya membunuh (sifat-sifat) kehewaniannya.

Oleh karena kapetengan (kemalaman), sebagai gambaran bahwa ia masih diliputi kegelapan (kebodohan/ketidaksadaran), maka Lubdaka menaiki sebuah pohon Bilwa (Bila), sebagai pertanda bahwa ia hendak meningkatkan kualitas dirinya, terutama rohani/spiritualnya. Agar tetap dalam keadaan terjaga (jagra), ia memetik-metik daun Bilwa, sebagai isyarat ia dengan tekun dan disiplin serta penuh konsentrasi mencurahkan rasa bhaktinya agar tetap dalam keadaan eling ring raga (berkesadaran).

Setiap bagian perbuatan Lubdhaka itu sebenarnya merupakan fragmentasi betapa pentingnya ''pengisian diri'' dengan berbagai jnana (pengetahuan/widya) agar menjadi wijnana (bijaksana) yang disimbolisasikan dengan memetik daun (lambang media aksara/ilmu). Selanjutnya menjadi bekal moral meningkatkan kesadaran spiritual, sehingga memudahkan pencapaian obsesi ''persatuan'' dengan Siwa, sebagaimana dilukiskan Lubdhaka bersamaan/bersatu dalam Yoganya Siwa yang membuatnya patut mendapat anugerah Siwaloka (surga).

Surga yang akhirnya berhasil dicapai Lubdaka sejatinya pembuktian bahwa siapapun umat manusia meski dalam keseharian hidupnya penuh dengan gelimangan dosa. Jika timbul kesadaran untuk merubah dan kemudian memperbaiki diri agar menjadi lebih berkualitas, jasmani-rohani atau material-spiritual, maka pahala surga siap menanti untuk dinikmati.

Namun patut disadari, persoalan pencapaian obsesi surga tidaklah semudah sebagaimana digambarkan lewat ''kisah satu malam'' Lubdhaka yang kemudian mengantarkannya meraih tiket surga. Bagaimanapun juga, semua bentuk pencapaian, pasti dibarengi dengan perjuangan sekaligus pembelajaran, syukur-syukur mendapat pencerahan guna mencapai kesadaran sampai akhirnya mencapai titik puncak kebahagiaan atau keabadian di alam-Nya.
Dalam konteks apa yang dilakukan atau ditiru oleh umat Hindu kebanyakan, lebih-lebih dari kalangan kawula mudanya dengan menafsirkan malam Siwaratri sebagai malam penebusan dosa, sesungguhnya merupakan sebuah kesalahkaprahan sekaligus bentuk penyimpangan terhadap arti dan makna hari suci Siwaratri. Apalagi kemudian dengan alasan majagra atau begadang semalam suntuk membuat kegiatan/acara yang keluar dari konteks ritual Siwaratri itu. Misalnya bepergian, terkadang berpasang-pasangan ke tempat-tempat sepi di malam hari seperti ke pantai atau lokasi lain yang dipandang aman dari pengawasan. Entah apa yang kemudian dilakukan anak-anak generasi muda Hindu tersebut, yang pasti maksud hati hendak bermalam Siwaratri dengan harapan menebus dosa kenyataannya malah semakin menambah dosa.

Tujuan utama Siwaratri untuk melebur atau melenyapkan (mapralina) kegelapan hati agar mencapai pencerahan dan kesadaran akhirnya berujung pada semakin jatuhnya kualitas diri manusia dari berstatus Manawa (manusia) yang seharurnya meningkat ke level Madawa (Dewa) justru menjelmakan karakter Danawa (raksasa), yang tentu saja semakin menjerumuskan manusia ke lembah dosa sekaligus menjauh dari surga.

Penulis adalah I Gusti Ketut Widana, Dosen Universitas Hindu (Unhi) Denpasar, seperti dikutip balipost.co.id, Senin (19/1).
 

Lagu Rohani

Support : Copyright © 2015. Hindu Damai - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger
UA-51305274-1