Headlines News :
Home » , , , » Masyarakat Bali Butuh Politik Humanis

Masyarakat Bali Butuh Politik Humanis

Written By Unknown on Thursday, February 27, 2014 | 7:30 AM

Masyarakat Bali (bali.panduanwisata.com)
Sikap orang Bali sering digambarkan aneh alias tidak lazim, yaitu bersikap keras bahkan kejam kepada saudaranya atau sesama orang Bali, namun di sisi lain bersikap ramah bahkan terkesan mengalah dengan orang lain (bukan Bali), atau sering disamakan prilakunya dengan prilaku ayam Bali, yaitu ketika ayam-ayam Bali diberikan makanan, seketika diantara ayam-ayam tersebut saling terjang dan saling patok, dimana ayam yang terkuat akan menguasai semua makanan tersebut, ayam yang lain minggir tidak kebagian, sangat berbeda dengan ayam lain (bukan ayam Bali), ketika mereka diberi makan, mereka tidak saling serang, namun masing-masing segera sibuk makan sebanyak-banyaknya. Prilaku politik seperti ini patut kita renungkan dan cermati bersama, ada apa dengan prilaku politik orang Bali?

 Ada beberapa contoh kasus yang terjadi pada masyarakat Bali yang menggambarkan praktek kekerasan (himsa) dalam kehidupan masyarakat Bali seperti yang dimaksudkan pernyataan di atas.

Pertama, ada anggota masyarakat di sebuah desa di Bali tidak atau belum dapat menunaikan kewajiban melunasi hutang ke LPD setempat, kepadanya diberikan hukuman larangan untuk bersembahyang di pura kahyangan tiga setempat.

Kedua, ada warga banjar tertentu karena sebagian besar waktu hidupnya sampai dia meninggal berada di perantauan sehingga tidak pernah ngayah di banjar, atau pada suatu waktu dia pernah bermasalah dengan krama lainnya, karena permasalahan tidak diatasi dengan baik, maka dilakukan tindakan balasan atau penghukuman dengan mensabotase upacara yadya (ngaben) yang bersangkutan sehingga upacara menjadi kacau dan gagal.

emudian kita lihat kasus yang lebih kasat mata politis, ada media massa dimana kebetulan pemiliknya terlibat konflik dengan orang yang menjadi pejabat penting, yang terjadi adalah media massa tersebut tidak memberitakan segala kegiatan atau program kerja pejabat tersebut.

Selanjutnya, jika ada krama Bali yang vokal mengkritisi kinerja pejabat yang berkuasa di suatu daerah maka oleh pejabat ini krama yang vokal tadi dianggap ‘musuh’ sehingga tidak mau diajak berkomunikasi apalagi dibantu atau diayomi. Sebenarnya banyak lagi contoh prilaku politik yang terjadi dimana di dalamnya ada unsur kekerasan baik verbal maupun non verbal, baik mental maupun phisik serta sosial.

Jadi, benang merah dari contoh-contoh peristiwa di atas adalah adanya prilaku kekerasan (himsa) dalam kehidupan politik masyarakat Bali dan antar sesama orang Bali sehingga tidak keliru adanya gambaran prilaku politik orang Bali mirip dengan prilaku makan ayam Bali.

 Susila VS Dursila
Kelirukah prilaku politik orang Bali yang demikian? Supaya jernih menilai persoalan ini, maka kita mengambil acuan atau bertolak pada ajaran agama Hindu, yang mana tentunya mengajak kita semua kepada kebaikan dan kebahagiaan. Sesuai dengan hukum karma, prilaku yang baik akan mendapatkan ganjaran kebaikan, demikian sebaliknya, prilaku buruk menghasilkan keburukan atau penderitaan.

bolarumputhijau.wordpress.com
Mana prilaku yang baik (susila) dan mana prilaku yang buruk (dursila), semua orang yang cukup umur dapat membedakan atau memilahnya, karena orang yang telah cukup dewasa, akal, hati dan budinya telah berfungsi dengan baik.

Kekerasan (himsa) dalam ajaran Hindu sudah dikategorikan dalam prilaku dursila, sedang lawan dari kekerasan (aniaya atau zalim) adalah kasih sayang yang tergolong prilaku susila. Namun harus hati-hati dalam hal ini, bagaimanapun harus mengasah kebijaksanaan, jika tidak kita akan mudah tersesat dalam pemahaman atau pandangan yang relatif dan pragmatis.

Coba perhatikan hal ini, tindakan membunuh, kita tahu ini tergolong perbuatan yang keras, jika kita seorang prajurit dalam peperangan membela tanah air, maka membunuh musuh adalah tindakan yang dibenarkan dan tepat, namun jika ada perampok membunuh korbannya ini tergolong prilaku kejam,sadis dan berdosa, jadi perbuatan yang sama, namun dengan niat yang berbeda, yaitu ada niat mulia dan ada niat jahat, terjadilah perbedaan yang prinsip sekali, ada prilaku susila dan ada prilaku dursila. Niat yang baik sudah pasti dilandasi rasa kasih sayang (sikap positif), sedangkan niat yang buruk sudah pasti pula didasari rasa benci, dendam, loba, nafsu jahat dan sebagainya yang berkekuatan negatif. Bagaimana mengetahui dan menyadari suatu niat yang mendasari suatu perbuatan, hal inilah dimaksud dengan kebijaksanaan.

Prilaku Politik Menyimpang
Dengan mencintai kebijaksanaan, kita dapat mengukur sejauh mana prilaku politik orang Bali menyimpang. Jika niat sebagian krama Bali atas sebagian yang lain berlandaskan niat yang baik, dan berlandaskan rasa kasih sayang, maka tindakan atau respon terhadap krama yang menjadi obyek tindakan meski secara kasat mata nampak merupakan prilaku kekerasan namun sesungguhnya merupakan prilaku yang susila/ahimsa.

Demikian juga, jika respon krama didasari niat yang buruk atau berlatar dendam dan tamak maka memang benar tindakan tersebut tergolong prilaku kekerasam (himsa). Disadari atau tidak, niat menjadi tolok ukur apakah prilaku kita tersebut tergolong kekerasan atau bukan. Jadi, dalam menilai tepat atau kelirunya prilaku politik orang Bali khususnya dalam contoh kasus-kasus di atas harus berdasarkan pengamatan, tanggapan dan penilaian yang menggunakan logika dan kebijaksanaan yang memadai.

Mengapa prilaku dalam contoh di atas masuk dalam prilaku kekerasan? Pertama, untuk kasus pertama, kedua dan ketiga, pada kasus ini ada upaya menghambat orang lain untuk beribadah sebagaimana biasanya, padahal aturan moral menyatakan bahwa sesama manusia harus saling memudahkan ketika menjalankan ibadah, apalagi dalam satu keimanan/agama, kemudian dalami lagi niat atau motif dibalik prilaku tersebut, diyakini ada unsur negatif di dalamnya seperti kemarahan, kebencian dan dendam serta arogansi.

www.nyananews.com
Sepatutnya, persoalan hutang piutang diselesaikan dengan peraturan LPD itu sendiri atau pengadilan perdata, masalah tidak melakukan kewajiban banjar diselesaikan sesuai awig-awig setempat, kemudian persoalan upacara hindarilah pendekatan adat semata gunakan juga pendekatan agama.

Pada kasus keempat dan kelima, ada sikap untuk melestarikan konflik yang mana ini bertentangan dengan ajaran moral yaitu menjaga tali silahturami, dalami lagi niatnya maka kita yakini ada unsur kemarahan, kebencian hingga dendam dibalik semua itu. Persoalan antar pribadi mohon jangan dibawa ke area publik karena sulit dikendalikan dampaknya dan sikap sok kuasa serta aji mumpung jangan dibiarkan melekat pada diri seorang pemimpin, karena pemimpin yang demikian mudah tergoda menyalahgunakan kewenangan.

Memang benar emosi baik positif maupun negatif adalah manusiawi, jika orang dipuji dan diberi hadiah, maka dia senang dan sayang pada yang memuji dan memberi hadiah, sebaliknya, jika dia dicaci dan dilukai hatinya, maka dia marah, benci serta dendam pada yang melakukan.

Agar emosi manusia tersalur dengan normal, maka diajarkanlah moral utama pergaulan Tat Twam Asi, yang maknanya adalah jangan berbuat kepada orang lain apa yang kamu sendiri tidak suka menerimanya. Jangan melalaikan bayar hutang, jika kamu sendiri tidak suka dihutangi, jangan menganggu ketenangan orang jika diri sendiri tidak suka diusik, jangan merendahkan martabat orang jika kamu sendiri tidak suka dilecehkan dan seterusnya.

Selanjutnya, jalinan komunikasi dan silahturami antar sesama harus dijaga, jika ada salah satu berbuat salah maka secepatnya menyadari kesalahannya, segera meminta maaf serta menebus kesalahan dengan penyesalan dan gantirugi yang sepadan.

Sebagai bingkai dari semua ini, hukum harus ditegakkan, siapa yang bersalah harus menerima hukuman, siapa yang benar harus mendapat keadilan, prinsip menegakkan hukum adalah kasih sayang bukan kebencian dan balas dendam, meski hukuman mati diputuskan inipun tetap berdasarkan rasa kasih sayang. Prilaku kekerasan memang perbuatan dosa, namun lebih berdosa lagi jika tidak berupaya menegakkan hukum dan keadilan.

ruangkudisini.blogspot.com
nitya Prilaku politik orang Bali yang mengedepankan kekerasan harus dikritisi agar orang Bali segera introspeksi diri, dan agar tidak terjebak dalam lingkaran kekerasan yang tidak berkesudahan. Sesama orang Bali, apalagi dengan keyakinan yang sama, sama-sama meyakini ajaran Tat Twam Asi dan hukum karma, sepatutnya lebih mengutamakan prilaku yang humanis, prilaku yang saling menghargai sesama, lebih kepada praktek balas budi kebaikan dan jangan condong kepada praktek balas dendam.

Saling balas budi diyakini akan memperkuat jalinan silahturami dan kerukunan sesama orang Bali, contohnya seperti ini, sebagai pemimpin yang memegang amanah, jika ada yang vokal mengkritisi kinerjanya, cermati dengan bijak, jika didasari niat yang tulus dan memang benar adanya,  hormati kritikan tersebut dan rangkulah serta bantulah orang tersebut. Namun jika niat tersebut jahat atau fitnahan semata, bersabarlah dan berjiwa besar, serta coba atasi dengan komunikasi dan persuasi, jika tidak bisa segera gunakanlah penegakkan hukum, jangan biarkan persoalan konflik semakin rumit dan berlarut-larut.

Semua pihak di Bali mesti introspeksi diri, memang benar selama ini orang Bali hanya berani dan keras kepada sesama orang Bali, belum lagi kuatnya praktek balas dendam, di sisi lain orang Bali terkesan takut pada orang bukan Bali karena orang Bali sadar dia minoritas, yang mudah dianiaya dan dimarjinalkan, dengan demikian orang Bali lebih bersikap ramah dan manis kepada orang bukan Bali.

Mari bersama kita berupaya agar prilaku ini tidak dominan lagi, kita berusaha agar orang bali berprilaku wajar, yaitu bersikap ramah dan manis kepada siapa saja yang berprilaku susila dan berprilaku keras dan tegas terhadap siapa saja yang dursila.
Share this post :

Post Comment

+ komentar + 2 komentar

Anonymous
March 2, 2014 at 11:46 AM

artikelnya becik dan penuh dengan hal-hal nyata yang terjadi di bali, kehidupan sosial, ekonomi,politik, pariwisata, budaya, adat istiadat, maupun hukum awig-awig.

semoga masyarakat Bali, menyadari Bali akan tetap Bali, bila orang Bali berada di tanah Bali ... alias bukan ngontrak , suksma

March 2, 2014 at 3:29 PM

Suksma bli,,,
Semoga Bali akan selalu tetap ajeg :)

Post a Comment

 
Support : Copyright © 2015. Hindu Damai - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger
UA-51305274-1